Aku hanya ingin kita yang sedehana. Makan murah di warung kaki lima. Motoran malam setelah kerja menyusuri kota. Duduk diteras minggu sore julid teman kerja atau cerita peristiwa. Atau seharihari berbalas whatsapp foto kucing sampai tertawa.
Dan semua yang kau lakukan kerap tak sempurna. Tetapi, syukur acapkali aku hidangkan atas hadirmu dalam seetiap hariku yg tak pernah sempurna, melengkapi, sesederhana itu.
Hah, sedap sekali, halu ini ditulis belaka.
Bila dulu aku pergi, itu hanya sesaat yang saat itu aku tak benar-benar yakin. Sampai aku benar yakin, bahwa satu-satunya cara aku mencintaimu dengan penuh ialah melepaskanmu. Bahwa satu-satunya cara agar kelak doaku tak lagi ada namamu ialah dengan (mencoba) melupakanmu.
Suatu hari, kelak, Ketika aku telah menemukan yang lain, aku ingin kamu tahu bahwa mengenal, bertemu dan berdiskusi dengan ialah caraku untuk belajar memaknai perasaan. Walau kamu tidak penuh mengetahuinya.
Barangkali, kamu tidak perenah memaknai kehilangan. Menguliti perasanku yang didalamnya penuh debar dan dedar saat ini. Kelak, Ketika detik yang telah kau rayakan dalam hilangnya perasaanmu enggan memberiku kesempatan menunggumu, aku akan berpesan bahwa aku pernah mencintaimu; dan aku (masih) mencintaimu.
Sayangnya, dunia mendukungmu. Mencintai paling tulus adalah melepasmu. Semesta terlalu canggung ditanam harap yang kelak pengap. Sayangnya lagi, kamu terlalu jauh untuk dimiliki. Langkahku sampai disini; penantian yang harus diakhirkan; dan hati yang kupaksakan berubah. Semoga tak ada lagi sesal; karna bagaimana pun juga, kamu tidak pernah benar tahu bahwa aku mencintaimu.
#28
![]() |
| sumber: https://bit.ly/3hO7ipn |
Berkali-kali kamu mengedipkan menakar paling dalam daratan bola matamu. Dipermukaanya segera terhampar biru air membias diantara lipatan tebing yang kamu sebut pelenyap lelap. Dua bayang matamu, dipantulkan cermin berpeluh lelah.
Aku akan pecahkan semua malam paling hening untuk mengatakan kau cantik. Setelah itu, aku pulang menghilang. Atau memintamu menjadi jalan setapak paling menyesatkan. Yang menghantarkanku dalam gelap belantaramu.
kau berkernyit dahi yang aku rasa ingin menebak isi kepalaku.
secangkir teh hangat kau seduh. Semakin malam terasa bahwa kita hanya meneduh diam.
“jangan pulang karena peluh, karena jenuh atau tak pernah ada aku dikepalamu” ujarmu sebelum pukul satu.
"Selamat ulang tahun, Cla"
Ucapan pria yang ditulisnya melalui pesan whatsapp untu seseorang.
Dua menit berlalu, pria ini bingung memilih kekata harapan dan doa yang yang hendak ditulis di pesan whatsappnya.
lalu; kembali pria mengetik gawainya
"Doakua hari ini adalah meng-aamiin-kan harapan-harapan penduduk bumi yang diujarkan kepadamu menuju langit"
kemudian pesan dikirimkan, dilihat centang penanda pesan masih berwarna abu-abu
tepat pukul dua belas lebih.
"kamu hebat!" pesan terakhir sebagai ucapan penutup dihari ulang tahunnya.
Sepulang kerja, yang seharusnya pukul lima sore, aku telah duduk di sebuah mall kota shanghai pukul empat.
Aku sudah berjanji, bertemu lelaki sebayaku yang suka memesan minuman coklat.
Kopiku mendingin, suasana memanas seperti minuman coklatnya yang baru saja di pesan.
"Kau tau apa yang ada dipikiranku" tanya dia.
"Aku tahu, bahkan semua risau didadamu" jawabku
Segeralah kau pulang, temui wanitamu, Hani. Ia menanyakan kabarmu ratusan kali lewat whatsappku
di beranda belakang rumah telah aku tanam melati yang akan meranum esok minggu. Semerbak melati seolah tak mampu dijarah oleh sejarah yang lelah. Terik matahari mampu membias disetiap jendela kaca yang terbuka dipagi hari. Dikamar kita, aku dapat merebahkan diri sepanjang malam tanpa ada sempat untuk bangun. Bagiku, rumah ini begitu indah.
Sembari aku memanaskan air di teko, kau bisa duduk dibangku menyajikan cerita.
Kita menghabiskan waktu bercerita, sepintas tentang angka dan manusia. Cerita telah habis kita menyeduh kopi dan terus riang tertawa.
Bagaimana cerita sore kemarin?
Kau masih saja duduk berdua menghadap sunyi, sementara aku didepanmu.
Aku menjelaskan tentang asa dan rasa.
"Kopi ini pahit, tapi tidak ketika aku bersamamu" rayuku.
Aku ingat jelas, kengerian malam itu aku tak bersamamu.
Kau jelas ingat.
Aku tiada.
Dibatas sore dan malam. Aku berada di Canberra mengingatkanku pada sore yang sering kamu lalui dan ceritakan kepadaku.
Akan selalu ada lampu jalan yang meredup.
Ingar bingar jalanan.
Manusia.
Semuanya.
Sore dan malam memiliki jeda, aku sebut sebagai jingga.
Disana aku menuliskan surat dari kertas yang aku ambil dari saku kemarin.
"Hai triya, apa kabarmu"
Aku selalu menanyakan kabarmu.
Jaga-jaga kau tak bertanya balik, aku juga baik-baik saja
Aku ingat dahulu, salah satu malammu, aku terbangun dan bercerita kepadaku tentang;
asteroid,
astronom dan
astronot.
Aku tak tahu. Kamu hanya menceritakan bahwa ceritamu kelak tak dapat dilihat dari jendela kamar.
Tapi, ibu tak pernah baik menjelaskan padaku harus bagaimana aku akan menjadi cerita-ceritanya.
Nanti kau akan tahu.
Saat dewasa.
Ujarnya.
Dalam tiket pesawatmu menunjukkan hanya seribuan mil jaraknya antara Bogor menuju Banda. Tapi, dalam hati kamu tahu betul jarak keduanya lebih dari itu.
Terdapat masa depan, masa lalu dan masa kini yang terhampar di keduanya.
Telah aku pesankan satu waktu kita untuk kita bisa berada di sudut kafe hari rabu. Aku tunggu kau dan tak ada orang lain yang mungkin bisa duduk disana.
Sebagai waktu yang melingkari leherku menggantungkan sesal dan sesak sebegitu dalam. Aku duduk dibawah kaca jendela berpeluh hujan bulan sepuluh.
Aku bisa saja datang setiap hari sepulang kerja menjenguk suasana ini sebagai kita yang menjelma kenangan. Tak perlu dipukul untuk menangis tak perlu dihantam untuk mengerang, aku hanya rindu.
Kau telah pulang.
Hilang.
Apa saja warna yang disuguhkan tepat di depan mataku olehmu, adalah sebuah kasih yang hingga kini aku tulis sebagai kisah yang melengkappi rentetan pelbagai hidup. Apapun dari tanganmu, kau hidangkan di meja baik bulat atau mengotak, asal kau pun pernah menyentuhnya, itu adalah aku.
di todong pistol dibalik kepalamu atau pun pisau nan melingkari lehermu untuk memaksa kau, aku takkan tahu hatimu bertuan.
Bodoh sekali jika manusia hanya memiliki raga kekasihnya yang terjerat dihatinya, jerat yang menjeritkan perasaan. Aku mengira semua yang terhenti dari perasaanmu kini adalah perasaan yang sedang kau jeda dangan carut- marut serak dan gerak perasaanmu. Aku pun ingin jeda, karena aku adalah kau.
"a prologue from a gurl who made my day always wkwkwk"


















