Barangkali, para aksi mahasiswa memang benar terjadi di istana.Mereka menuntut janji nawacita, menelisik yang terlaksana dan terlupa. Langit jakarta seakan menghitam, tak sehitam kejamnya bola mata penguasa.
Mereka yang menuntut ikhlas demi rakyat yang diambang batas , atau hanya ikut-ikutan mencari perhatian.
Keadilan berkumandang lantang, tak dijamin undang-undang.Sepanjang jalan saling teriak menuju istana, suara kebenaranpun dianggap hina. Menyuarakan demokratis disambut anarkis.
Aksi, dalam media sosial ingin bersikap netral, tetapi berakhir dengan brutal. Barisan dibubarkan, baku hantam, tertangkap sekarat oleh aparat.Ingin menyampaikan demokrasi, takkan bergerilya dengan polisi.
Aku mendengar cerita, aku melihat berita. Hukum bak sandiwara, yang bertahta memutar fakta. Rakyat bermodal media fesbuk, menerima berita busuk.Berita gugel acapakali tak kredibel. Memutar sudut-sudut pandang yang menyusut.
Media besar tak bisa membaca, menulis seenaknya. Menyebar berita kejamnya mahasiswa demi ratting massa. Media menghambakan uang, memenuhi perut-perut kebohongan. Kepalsuan diberhalakan, kebenaran terabaikan.
Hak warga negara tak lagi sama, tak begitu penting nawacita berasaskan sembilan yang berisi bualan.Orang-orang pinggiran menepuk dada kesesakan mengharap pembangunan. Mereka berkudis, koreng, dan penyakitan tak tak punya akses kesehatan. Mereka miskin, anak jalanan, gelandang urakan tak punya tempat aduan. Kartu-kartu indonesia andalan tak menjamin kesejahteraan.
Aku sangat prihatin, belantara nusantara tak lama berjaya. Berisikan reformasi yang tak ingin berdemokrasi.
Bapak Jokowi yang terhormat.
Sudahkah hari ini menyesap kopi di balkon istana? Lihatlah terlantarnya kami diseberang monas, dibawah pohon yang meranggas, diantara pawai awan dan terik panas. “tolong demo saya” ujaran bapak yang kita aminkan. Kita berdiri menagih janji, kita berbaris menagih janji manis. Sekiranya bapak berlapang jiwa, turun berdialog nawacita. Nawacita yang mana? Semoga bapak takkan lupa.
#literasidemokrasi