Jenuh





Aku baru saja kembali dalam tualang yang jauh. Sepertiga bulan juli aku kembali. kuletakkan ransel berkeringat, menggulung kaus kaki berbau ngengat dan segala yang menyetubuhiku diatas meja cokelat.

Kira-kira malam pukul sepuluh, kau menanak air. Sementara, kita duduk tanpa membahu diam menunggu air menggelegak matang.
kau berkernyit dahi  yang aku rasa ingin menebak isi kepalaku.

*CRIIINNGGGG*

Suara ketel elektrik mendebarkan suasana malam yang dalam.
secangkir teh hangat kau seduh. Semakin malam terasa bahwa kita hanya meneduh diam.

“jangan pulang karena peluh, karena jenuh atau tak pernah ada aku dikepalamu” ujarmu sebelum pukul satu.

“maaf” kataku datar.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!