- Dalam deburku, aku selalu membayangkan bagaimana tentang pelangi di sore hari. Kita merebah dalam permadani rerumputan mempertanyakan warna yang paling membias. Merah atau ungu yang paling jauh atau yang paling jatuh. Atau menerka dimanakah ujung batasnya dia berlabuh.
- Aku selalu membayangkan, manakah yang lebih berat menciptakan pelangi, cahaya mentari atau hujan yang jatuh. Dan aku selalu membayangkan bersamamu bercengkerama dibawah petang menunggu gelap untuk lelap.
- Sore manakah yang pelanginya teduh untuk kita ?
- Sesampai di penghujung reda dan terik yang menghangatkan, bunga mekarkan rindu yang akarnya aku tanam harap. Daun yang menguap, ranting cemara menderai sampai jatuh meninggal persinggahan. Hingga pelangi keluar dari rahimnya, aku seperti berkaca dengamu dan meluapkan perasaan dalam hati lirih.
- Segeralah juwita, kita adalah waktu yang sejenak untuk menyaksikan. Hamparan dan gradasi tak cukup aku sendiri melewatkan. Berilah tanda pada warna yang kau suka, merah mawar dalam kaca atau jingga dalam mega. Hingga selekasnya simpan dalam buku yang kau suka.
- Segeralah juwita, pelangi tak selalu menunggu untuk ditawan. Semerbak kerlip cahaya kota yang ego tak serupawan rindu pelangi pada hujan. Lipat payungmu sebagai batas kita pada ruang beradu, sibakkan tirai hatimu agar pelangi lekas bersarang.
- Kamu takkan pernah kecewa juwita, sekalipun. Walau hujan memberikan sejenak atau tak sama sekali, aku selalu menyimpan dalam saku utuh sebelum mengenalmu.
Home
Archive for
Maret 2018
Gelap merasuk temaram, dalam pangkuan diri kita berdiam. Di sudut kafe ini kita tak lagi saling berhadapan, kau memunggungi dengan rupawan. Kita menjelma menjadi kebisuan yang tak pernah sederhana berbicara.
Malam ini,
tak ada kekata. Tak kan ada penjelesan yang patut dan layak diselipkan dalam
dialog hampa yang sengaja kita adakan demi segera pulang.
Dan,
pembicaraan kita yang tak pernah ramah,
selalu menyisa pada kalah, pasrah.
Beberapa
tahun lalu, kita bertemu tepat di meja ini, aku menyodorkan romansa yang
baitnya tentang kita. Kita juga berbagi langit senja lewat jendala yang berhias
peluh tetes hujan bulan sepuluh.
Kita masih
dalam-dalam berjibaku, kau hanya membolak balikan buku biru dan menatap cangkir
teh yang pelan-pelan meninggalkan hangatnya. Sedangkan aku mengaduk kopi yang
sedari tadi telah larut, kau pun tahu.
Dari bibirmu
hanya menyaji senyum walau pilu menyarang dalam hati. Tidak sampai senja habis
kita tak menyuarakan kekata. Keheningan ini sudah muak memakan waktu, sedang
dalam dada, kita terus berbicara, saling menerka dan meyerapahi apa yang ada di
dalam tatap kita.
Malam ini,
kita bergantung pada lara yang kita bawa dalam saku kita. Kepulan asap terakhir
dari kopiku seperti lembar sejarah hasil menjarah kenangan kita, lara yang
segan lari, membuatku setengah sadar.
Kini, aku
terpaku gugup terlilit bisu. Kekata yang aku susun berserakan di lidah, menunggu
jatuh di meja kita. Kita masih beradu dalam ruang yang kita cipta senyap, suara
gemrutuk gigiku mengilu, menggigil. Ntah mana yang lebih dingin, kau atau udara
malam.
Kita saling
ego, menyikapi diri dalam kesungkanan untuk memulai sapa. Matamu yang bengkak
yang hampir mereda hujan tak lagi bisa berbicara aksara melainkan rasa. “kamu
dahulu deh, bagaimana?” ujarku memulai.
Aku kembali
bersungut diam. Aku seperti tayangan wayang yang bisa berbicara hanya karena
dalang. Sepertinya, kita sedang dalam balutan bilik wayang yang heningnya
tercipta dari kecamuk akibat kehampaan, pandangan, dan rasa lelah dari waktu
yang tak pernah berjalan.
Kau duduk
dihadapanku, menatap tepat mataku dengan topeng yang kau lukis gulita. kau
masih melayangkan pikir ke masa lalu, seolah ada tangan yang masih tergenggam
tanpa mengucap mantra yang bisa menyeduh suasana. Aku menabahkan hatimu.
Memulai meminta rasa diatas meja cokelat ini yang melapukkan segala kisah kita.
“bagaimana
kita bebicara jika mood kamu sudah
membaik. Mari kita pulang bersama, kurasa dijalan nanti akan ada rasa yang bisa
kita pungut” ucapku tiba-tiba. kau berhenti di sebuah halaman menatapku dengan
raut yang tak dapat kubedakan antara terkejut dan terkesan.
Akhirnya
penat yang sesak aku beranjak. Malam melarut kita dalam perasaan yang tak
pernah ikut. Aku disampingmu, sementar kau masih menatap kursi yang baru saja
kosong. Kau dan aku sekarang hanya duduk dalam penjara oleh perasaan yang tak
pernah terkalahkan.
Kita ingin
sepakat, bahwa kita adalah lembar baru yang tak punya sejarah masa lalu,
menjelma menjadi tumpukan kertas untuk
esok. aku elus kepalamu “ aku bukan kalimat romantis yang di tulis di bait-bait
karya pidi baiq, justru aku sebagai kertasnya yang kau baca hingga kau malu
tersnyum” ujarku.
Lekas aku
memautmu, menggemggam erat-erat. Genggam
adalah satu-satunya yang berada dalam pelukan. Perlahan degupmu berhenti,
bersamaan dengan getarku yang melirih. aku ingin menangis dan meyerapahiku,
lantas mundur melepas peluk.
Tapi aku
mendengarmu lirih berbisik
“peluk aku
lagi”.
Diatas meja yang hanya ada setumpuk kertas yang sebagian akan kutulis tentang pagi dan sore. Bagaimana kabut pagi tak pernah sedingin di sore. Atau sore punya jingga yang tak pernah bercerita pada pagi.
Ucapan sore
yang menggaris diantara batas jingga-hitam, aku jejalkan dalam kedua tanganku. Mengira
apa yang tak sempat dikatakan, aku sampaikan kembali pada pensil abu tengah
malam.
Lakon-lakon
yang aku sebut itu sebagai kamu. Aku tulis semua bersuka, riang sekali seperti
mekar seruni pada matamu. Hingga meja coklat berlumut inilah melapuk segala
cerita.
Dua bola matamu
yang tak pernah aku tinggal rindu. jernih
bak sungai yang airnya mengalir doadoa haru. Aroma tubuhmu yang sejenak menguap
itu tertanam dikepalaku. Atau dingin tanganmu Seperti kabut menusuk tanpa
hangat selimut. aku menjelma selimut, kau menjelma rindu.
Sebenarnya
aku ingin berbicara denganmu lagi. Tentang semua hal yang bukan tentang kita. Tentang
langit hitam kota jakarta, hujan selamanya kota bogor atau sisa dingin kota
batu. Aku tak sungkan memberitahu, bahwa nebula akan indah terlihat bersama
purnama. Mungkin juga tentang sebuah desa berpenghuni gagak atau peyair dengan
suara terbuat dari madu belantara.
Sesampainya
kita berkelar di tengah usia yang sejenak, aku tetap ingin bercerita denganmu.
Mengujarkan tangan kepada doa dan malam, hingga kau dapat menulis semua tentang
aku.
Dalam
era teknologi, kini tak lagi di pungkiri bahwa keberadaan teknologi dalam
kegiatan ekonomi menwarkan alternatif dalam interaksi global yang sangat mudah,
baik secara individu, bemasyarakat. Pakar ekonomi digital Amir Hartman
mendefinisika ekonomi digital sebagai “the virtual arena in which business actually
is conducted, value is created and exchanged, transactions occur, and
one-to-one relationship mature by using any internet initiative as medium of
exchange” (Hartman 2000). Menurut Hartman tak ada lagi batasan dan bendungan
dalam transaksi dalam hubungan perdagangan dan ekonomi, karena semua nilai dapat diciptakan dan diperjualbelikan antara
perorangan maupun kelompok secara global. Peran digitalasasi ini sangat mempengaruhi tiap aspek
kegiatan yang kemudian akan sejalan dengan perkembangan teknologi dan
pendidikan, pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan per kapita maupun
kebutuhan pangan.
Digitalisasi ekonomi
merambah berbagai belahan pelosok dunia, semua kegiatan saling terhubung dengan
mudah dan instan. Semua kemudahan dapat diciptakan dengan sentuhan “klik” dari perangkat-perangakat yang
saling terhubung. Digitalisasi ekonomi pesat sangat membantu dalam dunia
ekonomi pertanian berupa transaksi, kemudahan
otomasi pembayaran dan menabung, memantau harga yang fluktuatif, memenuhi pasar
global, mengurangi kesenjangan produksi dan berbagai kegiatan ekonomi pertanian
termasuk kegiatan sosialnya sekalipun.
Dampak
digitalisasi ekonomi merupakan dinamika yang sangat merubah tatanan sosial
masyarakat termasuk dalam perekonmian pertanian. Kewirausahaan petani atau
wiratani muda harus dapat mengaudit dinamika sosial agar kegiatan usaha dapat
terus bergerak dan sustainable.
Dinamika sosial merupakan tantangan bisnis dan ekonomi yang terus bergerak
tanpa pasti, reflek, dan mengarah pada perubahan lingkungan. Seorang young sociopreuner yang andal harus
mampu mengubah digitalisasi dalam ekonomi dan bisnis menuju perubahan yang
baik. Digitalisasi ekonomi bertransformasi menjadi media sosial yang sangat
berharga untuk kegiatan kewirausahaan.
Dalam kegiatan kewirausahaan sosial, digitalisasi yang
berupa media sosial memiliki fungsi yang sangat penting, semisal dalam ekonomi
akan menghasilkan pendapatan yang biasanya bergantung pada penjualan, maka dari
segi sosial kewirausahaan sosial menjadi sebuah hasil. Media sosial
sebagai hasil yaitu berupa perekrutan
dan edukasi kepada khalayak untuk bergabung dalam kegiatan sosial usaha tani yang kemudian hasil dapat tersalurkan dengan
konsep keadilan, baik keuntungan finansial atau aktualisasi masyarakat. Selain
itu juga dukungan anggota merupakan umpan balik yang cepat, menikmati ruang
interaksi publik yang murah, serta kemungkinan adanya interaksi anggota dengan
masyarakat yang semuanya adalah dampak dari media sosial. Kemudian, fungsi lain
dari media sosial yang terditalisasi adalah loyalitas tiap anggota baik dalam
kelompok sosial tani maupun antar wiratani. Loyalitas ini lahir dari aksi-interaksi
dari media membangun tiap diri petani. Selanjutnya, dampak yang dapat dirasakan
adalah mendapatkan sumberdaya manusia yang cepat dan berkompetensi dalam bidang
pertanian. Misalnya, media sosial memberi gambaran dan edukasi pertanian
melalui pratktik-praktik ataupun video yang membahas dalam bidang pertanian.
Sumber manusia yang andal dalam praktik pertanian akam memunculkan hubungan
masyarakat yang baik, kegiatan di pertanian khususnya di pedesaan akan
meningkatkan taraf kehidupan di segala lini. Maka, wiratani sosial yang mampu
menggemggam dengan baik digitalisasi ekonomi berupa media sosial akan mampu
terus bergerak dan sustainable dalam segala kegiatan yang berdampak berupa
hasil, partisipasi anggota, sumber manusia yang andal, loyalitas anggota dan
mendapatkan hubungan masayrakat yang baik.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


