Bila dulu aku pergi, itu hanya sesaat yang saat itu aku tak benar-benar yakin. Sampai aku benar yakin, bahwa satu-satunya cara aku mencintaimu dengan penuh ialah melepaskanmu. Bahwa satu-satunya cara agar kelak doaku tak lagi ada namamu ialah dengan (mencoba) melupakanmu.
Suatu hari, kelak, Ketika aku telah menemukan yang lain, aku ingin kamu tahu bahwa mengenal, bertemu dan berdiskusi dengan ialah caraku untuk belajar memaknai perasaan. Walau kamu tidak penuh mengetahuinya.
Barangkali, kamu tidak perenah memaknai kehilangan. Menguliti perasanku yang didalamnya penuh debar dan dedar saat ini. Kelak, Ketika detik yang telah kau rayakan dalam hilangnya perasaanmu enggan memberiku kesempatan menunggumu, aku akan berpesan bahwa aku pernah mencintaimu; dan aku (masih) mencintaimu.
Sayangnya, dunia mendukungmu. Mencintai paling tulus adalah melepasmu. Semesta terlalu canggung ditanam harap yang kelak pengap. Sayangnya lagi, kamu terlalu jauh untuk dimiliki. Langkahku sampai disini; penantian yang harus diakhirkan; dan hati yang kupaksakan berubah. Semoga tak ada lagi sesal; karna bagaimana pun juga, kamu tidak pernah benar tahu bahwa aku mencintaimu.
#28
