Sesekali cobalah kamu mendaki
gunung, lewati punggungan dan lembah hutan, yang landai dan terjal jauh dari
perkotaan, dan kamu akan mengerti bahwa rasanya
sepi itu adalah ruang yang kita ciptakan sendiri untuk tetap bertahan.
Sesekali cobalah kamu singgah ke
pantai, perhatikan ombak dan debur yang saling berkejaran dan menghempas di
bibir pantai tiap saatnya, dan kamu akan mengerti bahwa rasanya mengejar seseorang, sedalam dan sekaram apapun, kamu tak pernah berhasil.
Sesekali kunjungilah taman bunga
yang ada dikotamu, perhatikan dan pilih bunga yang menurutmu paling indah, dan
kamu akan mengerti bahwa rasanya memilih
yang sempurna akan terasa berat.
Sesekali datangilah taman
kanak-kanak dan memintalah kepada mereka untuk bernyanyi bersama, dan kamu akan
mengerti bahwa rasanya seduka apapun
perasaan, kamu harus tetap menjadi orang yang paling bahagia.
Sesekali pergilah ke stasiun
kereta terdekat, lihat lah rel kereta yang kekar itu, dan kamu akan mengerti
bahwa rasanya saling bersisian namun
pada ujungnya tak pernah bersama.
Sesekali berbicaralah dengan
nakhoda pinisi, tanyakan pengalamannya saat berlayar, dan kamu akan mengerti
bahwa rasanya kehilangan dan menentukan arah, yang orang
lain tak pernah mengerti.
Sesekali cobalah kamu duduk diteras saat hujan membasahi taman rumahmu, dan
kamu akan mengerti bahwa rasanya jatuh berkali-kali,
tetapi tetap bangkit menyaji kebahagian.
Lalu sesekali juga perhatikan
pelangi yang timbul setelah hujan, dan kamu akan mengerti bahwa rasanya pergi, tanpa harus di cegah.
Sesekali...
Dan sesekali saja kamu datang dan temui aku, dan tataplah
mataku, dan kamu akan mengerti bahwa rasanya
tenggelam dan karam dalam perasaanmu yang tak pernah kau tarik kembali ke
permukaan.
