Aku akan pecahkan semua malam paling hening untuk mengatakan kau cantik. Setelah itu, aku pulang menghilang. Atau memintamu menjadi jalan setapak paling menyesatkan. Yang menghantarkanku dalam gelap belantaramu.
Langit selalu menjatuhkan kata sifat. Ada ramah, marah, malas hingga berani. Tak satupun menyatu berpuisi tentangmu. Lalu, dihalaman rumah ibumu, kita merebahkan diri di karpet hijau rerumputan. Kau disampingku, melihat para awan berpawai membentuk tanda tanya. Dan kamu sebagai awan; akan aku tiupkan tubuhmu membentuk senyum yang kelak akan berjatuhan di ladang gersang.
Untuk pagi, matamu adalah hujan. Atau matahari yang mulai mengatur panas suhu tubuhnya memerahkan punggungku. Atau juga sebagai mimpi indah seseorang yang membuat lupa pulang hingga petang.
Walaupun aku telah kuat dan cukup pintar, jarimu adalah yang mengangkatku perlahan ke permukaan yang tak berdasar. Aku lekas kembali dan terlahir olehmu dari lampau yang mengandungku. Setelah itu kita memisahkan para waktu; kini dan esok kita bersama dengan lampau sebagai teman dan kenangan.
Jadi, aku sebut tubuhmu sabagai Paramiya. Kekasih para waktu yang menghilangkan senja sejam sebelum matahari tenggelam.