Apa saja warna yang disuguhkan tepat di depan mataku olehmu,
adalah sebuah kasih yang hingga kini aku tulis sebagai kisah yang melengkappi
rentetan pelbagai hidup. Apapun dari tanganmu, kau hidangkan di meja baik bulat
atau mengotak, asal kau pun pernah menyentuhnya, itu adalah aku.
Sebegitunya kau; ku jadikan aku. Sangat dalam . Matamu
sebagai mataku, senyummu sebagai
penghilang ragu, dadamu sebagai tempat kesahku, langkahmu kujadikan
arah, dan hatimu; belum tertebak sebagai apa. Tentu aku pun ingin tahu, seperti
apa hatimu.
Tertebak ataupun tidak, bulat ataupun kotak, hatimu juga
harus tahu bahwa hatiku berbentuk kau.
di todong pistol dibalik kepalamu atau pun pisau nan melingkari lehermu untuk
memaksa kau, aku takkan tahu hatimu bertuan.
Bodoh sekali jika manusia hanya memiliki raga kekasihnya yang terjerat
dihatinya, jerat yang menjeritkan perasaan. Aku mengira semua yang terhenti
dari perasaanmu kini adalah perasaan yang sedang kau jeda dangan carut- marut serak
dan gerak perasaanmu. Aku pun ingin jeda, karena aku adalah kau.
Hingga tiba suatu masa tiba antara kapan, ntah kini
atau seabad lagi, jeda-jeda menjadi reda.