Pulang



Telah aku pesankan satu waktu kita untuk kita bisa berada di sudut kafe hari rabu. Aku tunggu kau dan tak ada orang lain yang mungkin bisa duduk disana.

Sebagai waktu yang melingkari leherku menggantungkan sesal dan sesak sebegitu dalam. Aku duduk dibawah kaca jendela berpeluh hujan bulan sepuluh.

Aku bisa saja datang setiap hari sepulang kerja menjenguk suasana ini sebagai kita yang menjelma kenangan. Tak perlu dipukul untuk menangis tak perlu dihantam untuk mengerang, aku hanya rindu.

Kau telah pulang.
Hilang.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!