Cermin



Berkali-kali kamu mengedipkan menakar paling dalam daratan bola matamu. Dipermukaanya segera terhampar biru air membias diantara lipatan tebing yang kamu sebut pelenyap lelap. Dua bayang matamu, dipantulkan cermin berpeluh lelah.

"Kamu tahu, bagaimana bisa aku bisa membayangkan yang tak pernah hidup dan tak bertemu selama setengah windu?"

Lalu, kamu mengorek saku.
Memperoleh selembar bahwa didalamnya aku.

Tapi, apa pasal? Yang hendak kamu arungi adalah penyesalan yang cermin dihadapmu tak ingin merelakan, lepas dari matamu.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!