menulis #1



  • Bebarapa kali aku menulis sebagai bentuk penyesalan, seperti darah yang menganak sungai di nadi yang megalirkan kata-kata.
  • Aku menulis dengan tangan yang aku ujarakan sebagai doa suka, bahwa sepanjang garis senja-fajar menemukan kata-kata dalam kebahagian.
  • Aku menulis bukan karena lebih pintar, lebih rupawan, lebih mapan, lebih baik atau lebih jenjang.
  • Kata-kata, kalimat yang tak bermajas, memusingkan sudut pandang yang susut. Ucapan yang tak senonoh, kelakar tak terpelajar, jerit yang menjerat; aku tulis dalam kesukaan yang dalam.
  • Aku ingin lebih terbiasa menulis, termasuk skripsi yang belum-hendak digarap. Aku juga ingin memiliki kata yang santun “dalam tulisan” walau memiliki jiwa yang brengsek.
  • Sekain.
  • Eh sekian.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!