segeralah.
Segera pulang dari belantara yang kau sebut aku.
Semak dan ranting takkan menutupi, bahkan hujan tak menyapu jejak peraduan.
Hingga sore, dari lamat rindu yang usang berulang, aku hanya ingin kau cepat pulang.
Rumah yang kau tuju tak lagi berada dibalik punggung bukit yang pernah aku hujam tajam belati, bak derak pinus dalam sesak.
Garis senja mengubah jingga, susun dan nyalakan dupa yang akan melangit di bola matamu.
Asap yang menyesap memulaimu serapah berucap.
Dari sakumu, keluakan secarik kertas yang kau tulis tentang cerobohku.
Tentang malam bisu mendalam.
Ujarkan bencimu; Sumpahkan karma; Serapahkan pada tuli janji dan akasaraku yang kau baca, hingga tuhan menampakkan rupa memelukmu.
Aku bertuhan.
Sesekali aku memintanya mengobati rumitnya sendu sedanmu.
Isak yang sesak, terengah hingga melega, aku sisip sesapan rindu kepada kalam.
Hingga mati, rinduku paling sembilu.
0 komentar:
Posting Komentar