Dari aksara dan ceritera pengeran bulan yang menjadi pegantar tidur kemarin, kau kini beranjak dari diam dan sekat kata. Pagi terburai surya dari balik jendela yang sepersekian waktu, fajar dini membutakan gelap, merekah megah cahaya dari sisi manapun seperti rindu yang tak terelakkan. Malam itu bulan tak penuh, temaram terlalu memanjamu hingga menghilang.
Dalam ruang seduh pagi, aku menjerang api menyeduh kopi. Dua matamu yang kecoklatan berada dalam secangkir kopiku. kini aku sesap asap kopi yang beraroma kau sore itu. hanya meyesap saja aku tak berani menyeruput hingga dinginpun, sebab aku mencemaskan detik yang akan hilang bersamamu.
Sayup sayup kepak sayap dan kicau burung besautan, kata yang aku rangkai diotakku sore kemarin seolah terbang tak bersarang. Kaki yang sulit beranjak kini aku tancapkan diantara bilah meja, hingga kelak dari kedua tanganmu aku dapat berdiri.
Selalu saja seperti ini…
Aku selalu membayangkan ketika berjumpa matamu, aku yang pengecut atau kau yang pemalu? Aku yang canggung atau kau yang menunggu? Aih betapa sadarnya aku, bahwa aku butuh waktu, butuh beberapa malam untuk aku semogakan.

0 komentar:
Posting Komentar