- Dalam deburku, aku selalu membayangkan bagaimana tentang pelangi di sore hari. Kita merebah dalam permadani rerumputan mempertanyakan warna yang paling membias. Merah atau ungu yang paling jauh atau yang paling jatuh. Atau menerka dimanakah ujung batasnya dia berlabuh.
- Aku selalu membayangkan, manakah yang lebih berat menciptakan pelangi, cahaya mentari atau hujan yang jatuh. Dan aku selalu membayangkan bersamamu bercengkerama dibawah petang menunggu gelap untuk lelap.
- Sore manakah yang pelanginya teduh untuk kita ?
- Sesampai di penghujung reda dan terik yang menghangatkan, bunga mekarkan rindu yang akarnya aku tanam harap. Daun yang menguap, ranting cemara menderai sampai jatuh meninggal persinggahan. Hingga pelangi keluar dari rahimnya, aku seperti berkaca dengamu dan meluapkan perasaan dalam hati lirih.
- Segeralah juwita, kita adalah waktu yang sejenak untuk menyaksikan. Hamparan dan gradasi tak cukup aku sendiri melewatkan. Berilah tanda pada warna yang kau suka, merah mawar dalam kaca atau jingga dalam mega. Hingga selekasnya simpan dalam buku yang kau suka.
- Segeralah juwita, pelangi tak selalu menunggu untuk ditawan. Semerbak kerlip cahaya kota yang ego tak serupawan rindu pelangi pada hujan. Lipat payungmu sebagai batas kita pada ruang beradu, sibakkan tirai hatimu agar pelangi lekas bersarang.
- Kamu takkan pernah kecewa juwita, sekalipun. Walau hujan memberikan sejenak atau tak sama sekali, aku selalu menyimpan dalam saku utuh sebelum mengenalmu.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

0 komentar:
Posting Komentar