Gelap merasuk temaram, dalam pangkuan diri kita berdiam. Di sudut kafe ini kita tak lagi saling berhadapan, kau memunggungi dengan rupawan. Kita menjelma menjadi kebisuan yang tak pernah sederhana berbicara.
Malam ini,
tak ada kekata. Tak kan ada penjelesan yang patut dan layak diselipkan dalam
dialog hampa yang sengaja kita adakan demi segera pulang.
Dan,
pembicaraan kita yang tak pernah ramah,
selalu menyisa pada kalah, pasrah.
Beberapa
tahun lalu, kita bertemu tepat di meja ini, aku menyodorkan romansa yang
baitnya tentang kita. Kita juga berbagi langit senja lewat jendala yang berhias
peluh tetes hujan bulan sepuluh.
Kita masih
dalam-dalam berjibaku, kau hanya membolak balikan buku biru dan menatap cangkir
teh yang pelan-pelan meninggalkan hangatnya. Sedangkan aku mengaduk kopi yang
sedari tadi telah larut, kau pun tahu.
Dari bibirmu
hanya menyaji senyum walau pilu menyarang dalam hati. Tidak sampai senja habis
kita tak menyuarakan kekata. Keheningan ini sudah muak memakan waktu, sedang
dalam dada, kita terus berbicara, saling menerka dan meyerapahi apa yang ada di
dalam tatap kita.
Malam ini,
kita bergantung pada lara yang kita bawa dalam saku kita. Kepulan asap terakhir
dari kopiku seperti lembar sejarah hasil menjarah kenangan kita, lara yang
segan lari, membuatku setengah sadar.
Kini, aku
terpaku gugup terlilit bisu. Kekata yang aku susun berserakan di lidah, menunggu
jatuh di meja kita. Kita masih beradu dalam ruang yang kita cipta senyap, suara
gemrutuk gigiku mengilu, menggigil. Ntah mana yang lebih dingin, kau atau udara
malam.
Kita saling
ego, menyikapi diri dalam kesungkanan untuk memulai sapa. Matamu yang bengkak
yang hampir mereda hujan tak lagi bisa berbicara aksara melainkan rasa. “kamu
dahulu deh, bagaimana?” ujarku memulai.
Aku kembali
bersungut diam. Aku seperti tayangan wayang yang bisa berbicara hanya karena
dalang. Sepertinya, kita sedang dalam balutan bilik wayang yang heningnya
tercipta dari kecamuk akibat kehampaan, pandangan, dan rasa lelah dari waktu
yang tak pernah berjalan.
Kau duduk
dihadapanku, menatap tepat mataku dengan topeng yang kau lukis gulita. kau
masih melayangkan pikir ke masa lalu, seolah ada tangan yang masih tergenggam
tanpa mengucap mantra yang bisa menyeduh suasana. Aku menabahkan hatimu.
Memulai meminta rasa diatas meja cokelat ini yang melapukkan segala kisah kita.
“bagaimana
kita bebicara jika mood kamu sudah
membaik. Mari kita pulang bersama, kurasa dijalan nanti akan ada rasa yang bisa
kita pungut” ucapku tiba-tiba. kau berhenti di sebuah halaman menatapku dengan
raut yang tak dapat kubedakan antara terkejut dan terkesan.
Akhirnya
penat yang sesak aku beranjak. Malam melarut kita dalam perasaan yang tak
pernah ikut. Aku disampingmu, sementar kau masih menatap kursi yang baru saja
kosong. Kau dan aku sekarang hanya duduk dalam penjara oleh perasaan yang tak
pernah terkalahkan.
Kita ingin
sepakat, bahwa kita adalah lembar baru yang tak punya sejarah masa lalu,
menjelma menjadi tumpukan kertas untuk
esok. aku elus kepalamu “ aku bukan kalimat romantis yang di tulis di bait-bait
karya pidi baiq, justru aku sebagai kertasnya yang kau baca hingga kau malu
tersnyum” ujarku.
Lekas aku
memautmu, menggemggam erat-erat. Genggam
adalah satu-satunya yang berada dalam pelukan. Perlahan degupmu berhenti,
bersamaan dengan getarku yang melirih. aku ingin menangis dan meyerapahiku,
lantas mundur melepas peluk.
Tapi aku
mendengarmu lirih berbisik
“peluk aku
lagi”.

0 komentar:
Posting Komentar