bijaksana seperti bapakmu




sebelum membaca, kamu bisa mendengarkan podcast di tautan berikut  https://soundcloud.com/suaracerita/bapak


Menjadi bijak seperti Bapakmu
Banyak harapan yang sebenarnya sulit aku percaya untuk benar tersampaikan. Banyak sekali, tentang rindu, jarak, bahagia hingga putus asa dan rasa.
Kukira, ada baiknya aku mengurung bual dan buaiku  yang menjadi kekhawatiranmu saat kau ceritakan kepada bapakmu. Jika tidak, ini memang benar  akan menjadi petir di lautan siang-siang. Aku belum berani, belum berani tentang segala kemungkinan yang tak ku ketahui tentangmu dari bapakmu.  Bagaimana tidak, sedari dulu aku selalu khawatir terhadap perasaanmu tanpa pernah khawatir  tentang perasaan bapakmu jika aku mencintaimu.
Kekhawatiran bapakmu justeru bukan hal yang berlebihan, ketika tau saat anak perempuannya jatuh cinta kepada lelaki seperti aku. Aku sangat mengakui; mengakui karena aku belum bisa menjadi cinta yang paling aman selain bapakmu. Aku belum bisa menjadi lelaki seperti bapakmu; lelaki yang selalu menjaga perasaanmu tanpa pernah menyakiti.
Ketakutan bapakmu adalah hal yang paling masuk akal. Lelaki mana yang cintanya sebaik bapakmu. aku setuju bapakmu berujar demikian; bahwa semua lelaki yan baik akan tetap brengsek, akan tetap tak mengerti bahwa anak perempuannya jatuh dan cinta membutuhkan pundak kebijaksanaan yang luas seperti bapakmu. aku sangat kagum, ingin sekali aku memiliki cinta tanpa batas seperti bapakmu.
Maka, ajarkan aku lebih bijaksana untuk mencintaimu. Beritahu aku sesabar dan sebesar apa perasaan yang selalu diberikan bapakmu. aku juga ingin kuat, bahkan lebih kekar dan mengakar lebih dari bapakmu untuk mencintai anak satu-satunya. Karena kenyataanya, kau adalah satu-satunya mutiara paling berharga yang dibesarkan dengan lindungan cangkang sekokoh bapakmu.
Hatiku sangat menerima bahwa aku harus lebih bijaksana dari bapakmu. aku harus bisa selangkah lebih saat sedih, tetap bersuka saat luka dan tetap teguh saat merasa jatuh. Saat ini, kekata ini sudah menggunung sampai langit-langit mulutku hingga suatu saat nanti aku berani memuntahkan di meja keluargamu. Akan aku ceritakan tentang masa depan, hidup berkeluarga, tentang berkelana tanpa meninggalkan, tentang masa tua keluarga tanpa merasa kesepian dan tentang peduliku terhadap keluargamu.
Aku percaya, bahwa rumah, apapun bentuknya, adalah segala sesuatu yang membuat aman dan nyaman, tak perlu muluk-muluk karena kau adalah rumah yang selalu aku doakan.

Selamat mendengarkan. Selamat membaca juga.  Siapkan hatimu. Jangan terluka, Karena tulisan ini tidak membicarakan perasaan yang tercabik.

musikalisasi ini termuat dalam tulisan Mas Gun, Hujan Matahari (2014) hlm. 91-92

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!