Aku Ingin Berbicara Denganmu



Diatas meja yang hanya ada setumpuk kertas yang sebagian akan kutulis tentang pagi dan sore. Bagaimana kabut pagi tak pernah sedingin di sore. Atau sore punya jingga yang tak pernah bercerita pada pagi.

Ucapan sore yang menggaris diantara batas jingga-hitam, aku jejalkan dalam kedua tanganku. Mengira apa yang tak sempat dikatakan, aku sampaikan kembali pada pensil abu tengah malam.

Lakon-lakon yang aku sebut itu sebagai kamu. Aku tulis semua bersuka, riang sekali seperti mekar seruni pada matamu. Hingga meja coklat berlumut inilah melapuk segala cerita.

Dua bola matamu yang tak pernah aku tinggal rindu.  jernih bak sungai yang airnya mengalir doadoa haru. Aroma tubuhmu yang sejenak menguap itu tertanam dikepalaku. Atau dingin tanganmu Seperti kabut menusuk tanpa hangat selimut. aku menjelma selimut, kau menjelma rindu.

Sebenarnya aku ingin berbicara denganmu lagi. Tentang semua hal yang bukan tentang kita. Tentang langit hitam kota jakarta, hujan selamanya kota bogor atau sisa dingin kota batu. Aku tak sungkan memberitahu, bahwa nebula akan indah terlihat bersama purnama. Mungkin juga tentang sebuah desa berpenghuni gagak atau peyair dengan suara terbuat dari madu belantara.

Sesampainya kita berkelar di tengah usia yang sejenak, aku tetap ingin bercerita denganmu. Mengujarkan tangan kepada doa dan malam, hingga kau dapat menulis semua tentang aku.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar

Bila berhati Adelinda!